Hal-hal berikut ini yang aku cermati di beberapa supermarket di Jerman seperti HIT, PLUS, Kaufland, Aldi, Edeka.
Bila belanja di supermarket di Jerman, jangan harap kita akan mendapatkan plastic belanjaan. Kita musti bawa kantung belanja sendiri dari rumah atau beli plastic di supermarket dengan harga around 10-30 sen. Bagus sih…mengurangi sampah plastic.
Lalu soal produk di dalam supermarket. Di Indonesia, rata-rata produk yang ada di Hero, Giant, Carrefour, Gelael, Superindo, Alfa, etc adalah 90% sama. Mungkin quantity dan harga yang berbeda, namun di sini prosentase itu berkurang. Produk di dalam supermarket satu dan lainnya hanya 50% yang sama. Hal ini mungkin dikarenakan masing-masing supermarket punya brand sendiri. Jadinya untuk orang maniak pada brand tertentu akan mendatangi supermarket tertentu pula. By the way sampe saat ini aku belum menemukan susu high calcium di Jerman. Dimana ya nyarinya?
Bila kita belanja dalam jumlah banyak dan harus menggunakan troli, kita harus mengeluarkan uang sewa untuk ini. Maksudnya sewa di sini adalah kita memasukkan koin 1 euro (atau ada juga koin khusus buat troli) untuk membuka rantai troli sehingga kita bisa membawanya. Setelah belanja dan memasukkan belanjaan di mobil, kita harus mengembalikan troli ke tempat semula demi mengambil kembali koin kita. Moral dibalik sistem ini adalah supaya orang disiplin menaruh troli di tempat semestinya, dan tidak berserakan.
Untuk yang parkirnya jauh, nggak perlu kuatir karena ‘rumah troli’ biasanya tidak hanya satu dan ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau.
Saya nggak setuju bila system ini diterapkan di Indo. Bukannya nggak percaya kalau orang Indo bisa disiplin atau malah ngakalin system koinnya, tapi bila system ini diterapkan pasti pasti bakalan banyak orang yang kehilangan mata pencaharian.
Seperti halnya di toko sepatu. Di Indo, sepatu hanya di pajang yang sebelah kiri atau kanan saja (kurasa itu strategi dgunakan supaya sepatunya tidak dicolong orang). Bila kita memerlukan sisi sebelahnya, atau warna lain atau ukuran lain, kita tinggal panggil mbak pelayan dan ia akan cari di gudang dan membantu kita.
Di sini enggak (kecuali di butik sepatu kali ya). Di sini semua sepatu sekaligus kardusnya dipajang menumpuk di etalase. Di tumpukan palig tinggi adalah sepatu tanpa kardus, jadi kita bisa lihat modelnya. Kalau kita tertarik, maka kita musti cari sendiri ukurannya di kardus-kardus bawahnya. Memang nggak susah karena biasanya kardus sudah ditata sedemikian rupa menurut size, model dan warna. Bila ukuran yang kita cari nggak ada di jajaran kardus, berarti emang ukuran itu not available. Jadi dalam toko sepatu segede gaban, pelayan yang dibutuhkan nggak banyak, seringkali hanya 2 atau 3 orang karena custmer bisa malayani dirinya sendiri.
Buruknya dari sistem ini adalah, interior toko jadi terlihat nggak apik karena kebanyakan kardus di mana-mana. Dan seperti halnya sistem troli superarket, sistem ini juga nggak bisa diterapkan di Indo karena bisa menambah jumlah pengangguran hehe...